Beberapa tahun
belakangan ini berita tentang “anak indigo” cukup banyak diulas di
media, walaupun belum ada yang meneliti berapa sebetulnya jumlah anak
indigo di Indonesia. Hanya dipastikan, persentase jumlahnya masih
sangat sedikit, kira-kira 10.000 : 1.
Psikolog Elly Risman,
yang dikutip oleh Pikiran Rakyat, menjelaskan bahwa kecilnya angka anak
indigo yang diketahui, disebabkan sikap orang tua yang belum memiliki
kesadaran memeriksakan anak ke psikolog. “Mungkin ini yang menyebabkan
tidak adanya data yang valid mengenai jumlah anak indigo” katanya.
Mengapa kita perlu
memahami tentang “anak indigo” ini? Karena ada kemungkinan bahwa anak
anda adalah seorang indigo, bahkan bisa pula seluruh anak yang anda
lahirkan adalah seorang indigo. Sebelum kita membahas tentang anak-anak
indigo, alangkah baiknya kita mengetahui dulu mengenai warna indigo
yang dimaksud pada anak-anak indigo.
Warna indigo adalah warna
yang dominan dari warna aura (warna biru-merah). Warna Indigo
menunjukkan cakra mata ketiga, pusat aktivitas dari enerji psychic, yang
terbuka pada anak-anak Indigo. Anak-anak Indigo memahami perbedaan
yang sangat tipis antara dunia kasat dan dunia spiritual, dan mereka
memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dari sini, yang orang lain
tidak mampu.
Kebanyakan perilaku anak
Indigo dapat dipahami dari aspek ini. Definisi anak indigo adalah anak
yang menunjukkan seperangkat atribut psikologis baru dan luar biasa,
serta menunjukkan sebuah pola perilaku yang pada umumnya tidak
didokumentasikan sebelumnya. Pola ini memiliki faktor-faktor unik yang
umum, yang mengisyaratkan agar orang-orang yang berinteraksi dengan
mereka (para orangtua, khususnya) mengubah perlakuan dan pengasuhan
terhadap mereka guna mencapai keseimbangan. Mengabaikan pola-pola baru
ini akan kemungkinan besar berarti menciptakan ketidakseimbangan dan
frustasi dalam benak dari kehidupan baru yang berharga ini.
Banyak anak-anak sekarang
yang terkategorikan sebagai Anak Indigo, juga disebut “Children of the
Sun” oleh para ahli dari Amerika. Atau disebut juga sebagai
“Millennium Children”. Para ahli mengatakan lebih dari 90% (di lain
buku menyebutkan lebih dari 80 %) dari anak-anak di bawah 12 tahun, dan
beberapa mengatakan walau dalam persentase yang tidak besar terdapat
Indigo dewasa. Anak-anak ini teridentifikasi melalui adanya
karakteristik yang unik. Mereka cerdas dan kreatif, namun bersifat
sulit diatur pada kekuasaan dan sistem secara umum. Mereka sering
disalahdiagnosa sebagai ADD (Attention Deficit Disorder = atau Gangguan
Kekurangan Perhatian) atau ADHD (Attention Deficit Hyperaktive
Disorder = Gangguan Hiperaktif Kekurangan Perhatian) yang membutuhkan
terapi untuk mengatasi sifatnya. Secara fisik dan emosional mereka
sangat sensitif. Mereka juga sangat perhatian dan empati terhadap orang
lain, juga beberapa menjadi terlihat tidak berperasaan.
Anak Indigo dapat mudah marah dan kasar, mereka
membutuhkan keyakinan bahwa dirinya diterima dan memerlukan konseling.
Indigo juga mempunyai rasa depresi di usia muda jika mereka merasa
tidak mengapa mereka dilahirkan atau merasa tidak mempu berbuat apa-apa
untuk memperbaiki dunia.
Bagi Anda yang ingin
mengetahui apakah anaknya atau diri sendiri termasuk seorang Indigo,
bisa mencocokkan karakteristik anak Indigo dan Indigo dewasa berikut
ini. Selain itu biasanya seorang anak Indigo tergolong anak yang
istimewa (biasanya memiliki IQ -Intelligence Quotient- lebih dari 120
dan mempunyai kecenderungan mempunyai kemampuan supranatural) namun
seringkali mempunyai permasalahan dengan sistem belajar di sekolah pada
umumnya.
seorang terapis yang menuliskan tentang anak indigo mencoba mengkategorikan karakteristik anak indigo yang sering ditemui :
- Memiliki keinginan yang kuat, mandiri dengan melakukan apa yang ada di pikirannya daripada mematuhi kehendak orangtua
- Bijaksana dan memiliki tingkat kesadaran dan kebersamaan yang melebihi pengalamannya;
- Secara emosi, mereka
dapat dengan mudahnya bereaksi sehingga tidak jarang mereka memiliki
permasalahan dengan kecemasan, depresi atau stress;
- Kreatif dalam berpikir
dengan menggunakan otak kanan namun tetap harus berusaha belajar dengan
menggunakan otak kiri terutama pada sistem di sekolah;
- Anak indigo sering
didiagnosis mengalami ADD atau ADHD saat mereka menunjukkan perilaku
impulsive (otak mereka memproses informasi lebih cepat) dan mereka
harus tetap bergerak agar selalu fokus;
- Anak ini sangatlah peka dan dapat melihat, mendengar atau mengetahui sesuatu hal yang tidak dimiliki orang kebanyakan;
- Anak-anak ini belajar
secara visual dan kinestetik, mereka dapat mengingat apa yang terekam
dalam otak dan menciptakan melalui tangan;
- Apabila keinginan anak
tidak terpenuhi, maka anak merasa kesulitan dan menjadi self centered.
Meskipun hal ini bukanlah sifat sebenarnya;
- Anak memiliki potensi dan bakat yang luar biasa, namun dapat hilang begitu saja jika tidak sesuai dengan bentuk pengasuhan.
Anak indigo memiliki
getaran energi yang tinggi dengan pola yang menetap, yang kemudian
ditunjukkan dengan aura warna indigo pada tubuhnya. Getaran tertinggi
ini menciptakan perbedaan terhadap fungsi tubuh dan otak pada anak
indigo. Kebanyakan dari mereka berpikir dengan menggunakan otak kanan.
Saat stress anak kemudian mengembangkan pengaturan dalam otak, yang
mengenyampingkan pemikiran logis dan proses berpikir rasional, sehingga
muncul reaksi emosional yang berlebih. Ada pula anak yang menunjukkan
dengan perilaku marah, kesedihan atau ketakutan yang mendalam bahkan
kecemasan yang berlebih.
Memahami energi dasar
dan mampu mengamati keadaan energi pada saat anak sedang tidak stabil
sangatlah membantu bagi orang tua atau terapis, terutama saat bekerja
sama dengan anak ini. Diperlukan adanya pemahaman dasar mengenai energi
dengan mengajarkan pada mereka cara melindungi diri. Hal lain yang
tidak kalah penting yaitu dengan mengajarkan anak indigo dan orang
tuanya terhadap teknik dalam menyeimbangkan energi dan cara untuk
mengurangi tingkat stress pada anak, sehingga anak tidak terpengaruh
pada energi yang negatif.
Istilah Indigo
Seperti kita ketahui, manusia umumnya memunyai lima indera, tetapi ada yang dinamakan indera keenam.
Kata indigo diambil dan nama wama yaitu indigo, yang dikenal sebagai warna biru sampai violet.
Bagaimana hubungan warna itu dengan anak-anak yang mendapat julukan tersebut dan diketahui memiliki indera keenam?
Indera yang dimaksud
adalah intuisi, semua orang sebetulnya memiliki intuisi tetapi khusus
anak indigo mempunyai intuisi yang luar biasa tajam di atas kemampuan
orang kebanyakan. Mereka demikian peka seperti halnya anak jenius
mempunyai kepintaran di atas rata-rata, demikian juga anak indigo
mempunyai intuisi luar biasa tajam.
Dalam literatur
kesehatan seperti yoga, prana, autohipnotis, meditasi dan sebagainya
dikenal bahwa manusia selain mempunyai fisik yang bisa dilihat dan
diraba juga mempunyai tubuh halus yang hanya bisa dilihat oleh
orang-orang yang berbakat kewaskitaan, yaitu orang yang extra sensory perception (ESP)-nya
berkembang dengan baik karena tubuh halus itu berbentuk energi sinar
berada di bawah empat oktaf dan kemampuan mata kasat melihat. Mata kasat
sendiri hanya mampu melihat warna pelangi, yaitu dan ungu sampai
merah. Sedangkan badan halus itu berada di bawah warna merah termasuk far infra red ray (FIR) dengan panjang gelombang sekitar 12-6 mikron, frekuensi 60-120 Hz, dan orang awam mengenalnya dengan sebutkan aura. Yaitu,
sinar elektro-magnetik dan tubuh. Sinar elektromagnetik yang memancar
dan tubuh seseorang berbentuk clips mengelilingi tubuh fisik, kualitas warna dan kepadatannya mengindikasikan kesehatan dan karakter seseorang.
Untuk mengetahui apa
warna sinar elektromagnetik yang dikenal sebagai aura, kini orang tidak
perlu menunggu sampai mempunyai kemampuan ESP yang dikenal juga dengan
istilah “mata ketiga”.
Di Jakarta sudah ada
mesin foto aura generasi akhir yang disebut Aura Video Station. Di situ
kita bisa melihat secara langsung di layar monitor energi sinar
elektromagnetik atau aura itu bergerak membentuk selubung dan tubuh
fisik sesuai dengan tingkatan kesehatan dan emosi seseorang yang
diproyeksikan dengan warna.
Nah, warna anak indigo
sementara mi berdasarkan fakta yang terkumpul umumnya berwama bin
sampai violet sebagai dominasi dan aktifnya cakra keenam, yang juga
disebut cakra “mata ketiga”.
Cakra-cakra utama yang
berjumlah tujuh dan punya nama dan warna tertentu, serta memberi
intensitas energi sendiri-sendiri pada tiap wilayah kesehatan organ dan
tubuh fisik itu sendiri yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Cakra dasar warna energi merah
bertanggung jawab untuk kesehatan tulang dan otot di tubuh fisik dan memberi energi pada semangat hidup seseorang.
2. Cakra kedua warna energi oranye bertanggung jawab untuk kesehatan organ-organ reproduksi dan memberi energi pada kemampuan berinteraksi dengan sesama.
3. Cakra ketiga warna energi kuning
bertanggung jawab untuk kesehatan organ-organ rcproduksi dan memberi energi pada ambisi sescorang baik positif maupun negatif.
4. Cakra keempat warna energi hijaubertanggung jawab pada semua organ yang berada dalam rongga dada dan memberi energi pada timbang rasa pcrasaan seseorang.
5. Cakra kelima wama energi birubertanggung
jawab pada organ dalam rongga leher termasuk telinga, hidung dan
tenggorokan (THT) dan memberi energi pada kemampuan sescorang dalam
bcrintcraksi dan berkomunikasi, juga bcrkrcativitas halus seperti
melukis, dan menulis.
6. Cakra keenam warna energi indigodisebut
juga nilai yang bertanggungjawab pada seluruh organ dalam rongga
kepala termasuk pancaindera dan memberi energi pada kepekaan intuisi
dan ketajaman perasaan (feeling) untuk hal-hal abstrak, seperti
berpikir cepat.
7. Cakra kctujuh wama energi violet bertanggung
jawab pada semua organ di kepala, khususnya otak dan memberi energi
pada sikap seseorang berhubungan dengan ke-Illahian.
Umumnya orang yang
berbakat sebagai indigo sudah tampak sejak lahir, bahkan kenyataan
sebagaimana umumnya juga merupakan karunia yang turun-temurun. Jadi,
secara alami mereka memang punya karunia itu dan ketajaman intuisinya
berlainan satu dengan yang lain. Ada yang sangat peka sampai bisa
mempunyai penglihatan menembus ruang dan waktu, misalnya sambil
mengadakan hubungan telepon dia bisa menebak lawan bicaranya pakai baju
warna apa atau sambil ngemil apa, juga mempunyai penglihatan akan
kejadian-kejadian yang lalu atau yang akan datang dan keahlian seperti
yang dimiliki orang yang dijuluki paranormal.
Tetapi, ada juga yang
hanya bisa merasakan kenyamanan suatu tempat atau lebih bisa membaca
“pikiran orang”, ada juga yang bisa mengerjakan sesuatu yang tidak
pernah dia pelajari sebelumnya, seperti keahlian olahraga tertentu,
menulis, melukis sampai menjadi ahli tata rambut terkenal dsb.
Ada sebagian orang yang
berubah menjadi indigo child dan memiliki segala kelebihannya karena
terbebas dan suatu penyakit berat atau kecelakaan parah yang biasanya
secara medis sudah dinyatakan tidak ada harapan hidup lagi, tetapi
tahu-tahu bisa kembali sehat normal dan menjalani hidup seolah terbebas
dari kematian dan mempunyai kemampuan intuisi tajam, bahkan jadi bisa
memunyai keahlian-keahlian khusus, seperti jadi terapis/ pengobat
dengan kemampuan khusus/tabib tanaman obat dan sebagainya.
Umumnya anak Indigo
berkepintaran tinggi, walaupun tidak bisa diukur dengan prestasi
sekolah dengan ukuran peringkat. Mereka punya kemampuan berpikir,
berdialog setingkat orang dewasa. Jadi, hati-hati kalau berhadapan
dengan seorang indigo jangan mengukur kemampuan berpikir mereka dan
usia dan pendidikannya. Terkadang apa yang tidak sampai dalam alam
pikir kita sebagai orang dewasa, indigo bisa mencapainya. Jadi,
terkesan ia banyak akalnya dan banyak maunya, menjadikan mereka suka
dicap sebagai anak kecil “sok tahu” atau kalau orang dewasa dicap
sebagai orang sombonglah karena suka menganggap lawan berdialog “telmi”
(telat mikir).
Indigo child juga banyak
yang mempunyai kemampuan di luar nalar. Misalnya, dia bisa melihat dan
berdialog dengan teman-teman di alam lain yang tidak bisa dilihat orang
lain atau mendadak piknik keluarga yang sudah dirancang matang jauh
sebelumnya hanya karena dia merasakan akan mendapat rintangan atau
kecelakaan dalam perjalanan, jadi batal.
Siapakah Anak-Anak Indigo itu?
Laporan berikut ini
menggambarkan beberapa anak berbakat yang sering dianggap sebagai
”Anak-Anak Indigo” karena aura mereka yang dilaporkan berwarna nila
(indigo). Mistikus Amerika Edgar Cayce (1877 – 1945), yang mampu
melihat aura orang lain, mengatakan bahwa kelompok-kelompok individu
yang luar biasa dan amat mengagumkan akan mulai turun berinkarnasi ke
Bumi selambat-lambatnya pada abad ke 20 dan seterusnya. Ia mengatakan
bahwa mereka akan datang dengan sebutan Anak-Anak Indigo.
*Seorang anak perempuan
berumur 8 tahun mengatakan kepada ibunya yang bekerja sebagai polisi
wanita bahwa dia telah lama menunggu untuk dilahirkan di Bumi ini dan
untuk memperoleh ibunya sebagai orang tua. Dia mengatakan bahwa dia
mempunyai sebuah misi. Ibunya mengatakan bahwa anaknya nampak sangat
bijak dan tahu segalanya – sebuah ”jiwa yang sudah tua”.
Akiane, berumur 10
tahun, mengatakan bahwa pada saat berumur 4 tahun, dia mendapat
penglihatan bertemu dengan Tuhan dan bertemu orang-orang baru. Ia
mendapat inspirasi dari Tuhan untuk menggambar, menulis puisi, dan
berbagi talenta-Nya dengan orang lain. Ia sering menggambar berbagai
benda tanpa mengerti maknanya, seperti misalnya piramid. Ia berkata,
“Saya mulai mengerti bahwa ini adalah Tuhan; ini semuanya Tuhan. Ia
membantu saya melalui bakat seni saya; Ia membantu saya lewat puisi
saya, kehidupan saya, dan kehidupan orang lain. Ia menjaga saya seperti
layaknya saya seekor kupu-kupu kecil. Saya ingin karya seni saya
menarik perhatian orang kepada Tuhan dan saya ingin puisi saya menjaga
perhatian orang kepada Tuhan.” Salah satu puisinya berbunyi: “Pada hari
kelahiranku, aku berjumpa dengan diriku sendiri. Pada hari kelahiranku,
aku berjumpa dengan ibuku yang masih muda. Pada hari kelahiranku, aku
berjumpa dengan Kristus yang sedang tidur di ayunanku.”
*Ketika Joshua berumur
kira-kira 3 tahun, ia bepergian dengan ayahnya. Tiba-tiba ia bertanya
mengenai “Michelangelo”, ingat bahwa “ia pernah melukis langit”. Ayah
Joshua berkata, “Ya, benar. Ia memang pernah melukis langit di sebuah
gereja besar dan melukis benda-benda lainnya.” Ayahnya bertanya kepada
Joshua, ”Kenapa? Apakah kamu tahu tentang dia atau bagaimana?” Joshua
menjawab, “Ya, ya, saya mengetahuinya, ia adalah seorang pria yang
baik. Kejadiannya sudah sangat lama, lama sekali.”
*Boriska, seorang anak
laki-laki dari kota Volzhsky, Rusia, mampu mengingat dan dengan
gamblang menceritakan kehidupan sebelumnya di planet Mars. Boriska
mampu berbicara dengan kata-kata dan kalimat yang jelas ketika ia baru
berumur delapan bulan. Pada umur tiga tahun, ia bercerita tentang alam
semesta kepada orang tuanya. Ia juga mulai memberi nasehat kepada orang
lain untuk meningkatkan standar moral mereka. Ia memperingatkan
orang-orang tentang perubahan-perubahan yang akan terjadi di Bumi. Para
ilmuwan mampu memotret auranya dan mendapati auranya berwarna indigo,
yang menunjukkan bahwa “ia adalah orang yang bahagia dengan IQ yang
tinggi.”
ANAK AUTIS.
Pengertian Tentang AUTISME.
Autisme kini sudah
menjadi pandemi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Autisme di
Indonesia kurang mendapat perhatian. Padahal sekali terdiagnosa sebagai
anak autisme maka untuk keluar dari gejala itu butuh waktu
bertahun-tahun dan biayanya sangat mahal. Ini seperti bom waktu yang
mau meledak. Makin banyak, makin banyak, makin banyak dan akhirnya kita
akan kehilangan generasi mendatang karena anak autisme dari lapisan
masyarakat bawah tidak mendapat penanganan yang baik.
Data yang muncul di
beberapa media menyebutkan bahwa pada tahun 1987 rasio jumlah orang
dengan autisme adalah 1: 5.000. Pada tahun 2007 di AS menurut laporan
Center for Disease Control memiliki rasio autisme 1:150 (di antara 150
anak, ada satu anak autisme). Sementara di Inggris sendiri disebutkan
rasionya yaitu 1:100.
Dari data yang sudah
muncul di beberapa media terlihat semakin lama semakin tinggi orang
dengan autisme. Apa itu autisme? Autisme bukan penyakit jadi jangan
disebut penderita atau penyandang karena memang disandang seumur
hidup.
Autisme adalah suatu
gangguan perkembangan. Bedanya dengan penyakit adalah kalau penyakit ada
virusnya, ada kumannya, ada jamurnya. Sedangkan autisme tidak ada.
Jadi tidak ada obatnya juga.
Gejalanya adalah
gangguan perkembangan yang menyangkut perkembangan komunikasi dua arah,
kemudian interaksi sosial yang timbal balik, dan perilaku. Yang nomor
satu kelihatan adalah anak ini tidak bisa berbicara. Walaupun sudah
waktunya bicara masih belum bisa bicara. Itu yang biasanya membawa
orang tua ke dokter. Mengapa anak saya sudah 2,5 tahun belum bisa
bicara? Kalau dokternya mengerti maka akan langsung waspada lalu periksa
yang lain-lain. Tapi kalau dokternya tidak mengerti kadang-kadang
diremehkan, seperti mengatakan, “Tidak apa-apa, biasa anak laki itu
bicaranya terlambat, keponakan saya empat tahun baru bisa bicara juga
sudah jadi profesor sekarang.” Jadi orangtuanya terlena. Beda antara
anak autisme dan tidak adalah kalau anak terlambat bicara saja maka dia
akan berusaha komunikasi dengan bahasa Tarzan. Jadi dia terlambat
komunikasi verbal. Tapi secara non verbal dia berusaha komunikasi dengan
mimik muka, dengan gerak gerik. Sedangkan anak autisme tidak.
Perilakunya terlihat sekali aneh-aneh. Dia melakukan hal-hal yang aneh
berulang-ulang. Misalnya, dia sering berputar-putar, dia sering memutari
benda yang bulat dan senang sekali. Kalau sudah berhasil kemudian
melompat-lompat sambil mengepak-ngepakkan tangan. Kemudian ada juga yang
suka duduk di pojok, atau hanya main pasir, atau ada yang senangnya
main air, dan ada yang mendorong-dorong terus bolak-balik.
Terapinya harus
sangat-sangat intensif, sangat komprehensif, dan macam-macam. Pertama,
mereka tidak bisa berbicara maka harus mendapatkan terapi bicara.
Kemudian lucunya anak ini ototnya kuat. Jadi bisa lari dan kalau
memukul orang bukan main kerasnya. Tapi disuruh pegang pensil,
tangannya lemas. Jadi seolah-olah tidak mempunyai tenaga. Otot-otot
halusnya tidak terampil sehingga mereka harus mandapatkan terapi okupasi
untuk melenturkan otot-otot halusnya dan dipersiapkan supaya bisa
memegang pensil, bisa menulis, dan sebagainya.
Selain itu, karena mereka
memiliki perilaku yang aneh-aneh, maka harus terapi perilaku. Jadi
perilaku yang tidak wajar dihilangkan, diganti dengan perilaku yang
wajar. Itu yang dari luar. Kemudian ada juga yang keseimbangannya tidak
bagus atau panca inderanya ada gangguan. Nah itu perlu diterapi juga,
namanya terapi integrasi sensoris. Disuruh merosot di perosotan,
diglondongin di bola besar, diayun-ayun, dan sebagainya. Itu
terapi-terapi dari luar.
Dari dalam tubuh sendiri
juga harus diterapi, dicari dengan laboratorium atau periksa darah
apakah anak ini mempunyai gangguan alergi atau tidak? Kebanyakan mereka
mempunyai alergi makanan yang sangat banyak. Kalau ketahuan,
hilangkan. Kemudian rambutnya diperiksa, apakah anak ini keracunan
logam berat atau tidak? Kalau keracunan didetoks atau dikeluarkan logam
beratnya. Kalau keluarganya mau melakukan terapi bisa juga. Dalam hal
ini sebetulnya anak juga mengerti. Kalau di terapi center, dia menurut
dengan gurunya. Namun saat terapi dilakukan oleh orang tuanya di rumah,
dia sama sekali tidak mau seperti mengerti siapa yang harus dituruti.
Jadi orang tua kesulitan kecuali sangat tegas, sangat konsisten dalam
disiplin sehingga anak menjadi menurut.
Pengertian Autis Secara Global Dengan Bahasa Ringan.
“AUTIS” adalah gangguan perkembangan,bukan penyakit, bukan kelainan, dan bukan bahan ejekan.
Autis : Gangguan Perkembangan
“Autis” hanyalah
gangguan perkembangan jadi jangan sekali-kali memberikan vonis bahwa
anak, remaja, atau balita dengan “autis” dengan sebutan “penderita
autis” atau “penyandang autis” karena gangguan perkembangan yang biasa
disebut “autis”, “autisme”, "autisma" atau “autism” bukan merupakan
penyakit yang disebabkan oleh virus, kuman, maupun jamur. Selain bukan
penyakit, autis juga bukanlah gangguan jiwa apalagi gangguan roh halus,
jin, makhluk gaib atau apapun istilah lain yang terkesan sangat
memojokkan.
Sedih memang jika
masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang sangat sempit tentang
“autis”. Paradigma ini tentu saja harus segera dirubah dan semoga saja
upaya kecil saya ini dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan
pemahaman masyarakat tentang istilah “autis”, “autisme”, "autisma" atau
“autism”.
Autis adalah sebuah
gangguan perkembangan yang umumnya ditandai oleh tiga gejala utama
yakni interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Penyebab autis sendiri
hingga kini belum diketahui secara pasti.
Karakteristik Autis.
The National Autistic Society mengemukakan ada tiga karakter utama yang menunjukkan seseorang menderita autis yakni :
* Social interaction – kesulitan dalam melakukan hubungan sosial,
* Social
communication – kesulitan dengan kemampuan komuniskasi secara verbal
dan nion verbal, sebagai contoh tidak mengetahui arti gerak isyarat,
ekspresi wajah ataupun penekanan suara.
* Imagination –
kesulitan untuk mengembangkan mainan dan imajinasinya, sebagai contoh
memiliki keterbatasan aktifitas yang membutuhkan imajinasi.
Julianti Gunawan,
menuliskan,”Ciri-ciri gejala autisme nampak dari gangguan perkembangan
dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, perilaku, emosi, dan
sensoris. Secara umum, anak autis dikatakan “sembuh” bila mampu hidup
mandiri (sesuai dengan tingkat usia), berperilaku normal, berkomunikasi
dan bersosialisasi dengan lancar serta memiliki pengetahuan akademis
yang sesuai anak seusianya.
Penyebab Autisme.
Jumlah anak yang terkena
autisme makin bertambah. Di Canada dan Jepang pertambahan ini mencapai
40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002
di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode
diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang
ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut diatas
sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih
misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter
di dunia.
Sebagai contoh,
perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemunkinan
penyebab autisme yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari
Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan
penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles,
mumps rubella ) dan autisme.
Penelitian lainnya
membantah hasil penyelidikan tersebut tetapi beberapa orang tua anak
penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Jeane Smith
(USA) bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini
sudah menjadi epidemi - saya dan banyak orang tua anak penderta autisme
percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi
dari vaksinasi.
Banyak pula ahli
melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autisme telah ada jauh
hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan.
Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga
melalui gen autisme.
Patricia Rodier, ahli
embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang
disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak
dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti
lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian
otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil
dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan
perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan
atau pada saat kelahiran bayi.
Karin Nelson, ahli
neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari
contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi
normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel
berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa
bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autisme
dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum
kelahiran bayi.
Saat ini, para peneliti
dan orang tua anak penyandang autisme boleh merasa lega mengingat
perhatian dari negara besar di dunia mengenai kelainan autisme menjadi
sangat serius. Sebelumnya, kelainan autisme hanya dianggap sebagai
akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya.
Disamping itu, kemajuan
teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab
autisme secara genetik dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti
di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang
baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme.
Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama
autisme sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.
Sumber : http://deebacalah.blogspot.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar