Jumat, 15 Maret 2013

Dokter: Jajanan Tidak Sehat Berpengaruh Perkembangan Anak

 
Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak dr H Tb Rachmat Sentika Sp MARS mengatakan jajanan yang tidak sehat, terutama di sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
"Berdasarkan hasil penelitian di Tanah Air, hanya 18 persen dari anak sekolah yang membawa bekal ke sekolah. Sebanyak 60 persen anak lainnya diberi uang oleh orang tuanya dengan kisaran Rp2.000 hingga Rp5.000," ujar Rachmat yang juga Staf Ahli Menko Kesra tersebut dalam acara konferensi pers "Aku Anak Sehat" di Jakarta, Rabu.
Dengan uang jajan yang hanya Rp2.000 hingga Rp5.000 tersebut, lanjut dia, dipastikan jajanan yang didapat tidak terperhatikan nilai gizinya.
"Tahun kemarin kami bekerja sama dengan BPOM meneliti jajanan anak di sekolah, hasilnya sebanyak 35 persen jajanan yang ada di sekolah tidak sehat karena mengandung zat adiktif maupun pewarna," jelas dia.
Jajanan yang tidak sehat tersebut, sambung Rachmat, akan berpengaruh terhadap pembentukan generasi pada masa yang akan datang. Di mana 23 persen di antaranya berasal dari faktor makanan.
"Untuk menciptakan generasi emas, perlu diperhatikan makanan dari anak tersebut," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Manajer Pemasaran PT Tupperware Indonesia Nurlaila Hidayaty mengatakan pada tahun ini program "Aku Anak Sehat" akan menjangkau sedikitnya 600 SD dan menjangkau lebih dari 100.000 siswa.
Program Aku Anak Sehat tersebut bertujuan untuk mengedukasi betapa pentingnya membawa bekal yang bersih, sehat dan bergizi melalui guru, siswa, kepala sekolah dan komite sekolah.
"Program ini merupakan bentuk kepedulian PT Tupperware Indonesia terhadap kebersihan dan kesehatan anak-anak di lingkungan sekolah demi mendukung bekal masa depan yang gemilang bagi anak," ujar Nurlaila.
Program tersebut pertama kali diluncurkan pada 2007, dan telah menjangkau 206.290 siswa hingga 2012.(rr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar